Dada saya sesak, kalau bisa, segalon air mata yang ingin sekali saya buang, tapi sayangnya tidak sebanyak itu air mata yang saya punya. Dua tetes saja sepertinya cukup, itu pun harus usaha setengah mampus, meremas-remas hidung sampai merah-merah, baru dengan sombong air mata itu mengalir. Ada rasa lega waktu saya rasakan dinginnya di pipi saya. Luluh sudah angkuh hati saya selama ini, saya menyerah. Ternyata ditinggalkan dan meninggalkan itu lebih perih dari yang selama ini bisa saya bayangkan. Mungkin karena selama hayat dikandung badan, saya belum pernah benar-benar merasa ditinggalkan atupun meninggalkan. Semua selalu kembali, semua tidak benar-benar pergi. Saya pun selalu kembali tidak benar-benar pergi.
Perpisahan itu sudah di depan mata, saya mendadak benci, sampai ke ubun-ubun, dengan jam dinding merah muda di dinding kamar saya. Ingin saya minta dia berhenti saja, sudahlah, istirahatlah, jangan berputar-putar terus, bantulah saya sedikit saja. Dia cuek bebek, cantik sekali detik-detik itu terus berotasi.
Tetes ketiga, saya mulai lelah. Semoga ini tetes terakhir. Saya harus siapkan hati baik-baik. Biarpun saya menghindar sampai ke dalam perut bumi, hari itu pasti datang. Saatnya ditinggalkan, saatnya meninggalkan.
(Pagi hari buta, waktu matahari belum bangun dari tidur singkatnya, waktu ayam masih berlindung di bawah ketiaknya sendiri,,)
