Selasa, Desember 18, 2007

3.10 a.m.

Dada saya sesak, kalau bisa, segalon air mata yang ingin sekali saya buang, tapi sayangnya tidak sebanyak itu air mata yang saya punya. Dua tetes saja sepertinya cukup, itu pun harus usaha setengah mampus, meremas-remas hidung sampai merah-merah, baru dengan sombong air mata itu mengalir. Ada rasa lega waktu saya rasakan dinginnya di pipi saya. Luluh sudah angkuh hati saya selama ini, saya menyerah. Ternyata ditinggalkan dan meninggalkan itu lebih perih dari yang selama ini bisa saya bayangkan. Mungkin karena selama hayat dikandung badan, saya belum pernah benar-benar merasa ditinggalkan atupun meninggalkan. Semua selalu kembali, semua tidak benar-benar pergi. Saya pun selalu kembali tidak benar-benar pergi.


Perpisahan itu sudah di depan mata, saya mendadak benci, sampai ke ubun-ubun, dengan jam dinding merah muda di dinding kamar saya. Ingin saya minta dia berhenti saja, sudahlah, istirahatlah, jangan berputar-putar terus, bantulah saya sedikit saja. Dia cuek bebek, cantik sekali detik-detik itu terus berotasi.


Tetes ketiga, saya mulai lelah. Semoga ini tetes terakhir. Saya harus siapkan hati baik-baik. Biarpun saya menghindar sampai ke dalam perut bumi, hari itu pasti datang. Saatnya ditinggalkan, saatnya meninggalkan.


(Pagi hari buta, waktu matahari belum bangun dari tidur singkatnya, waktu ayam masih berlindung di bawah ketiaknya sendiri,,)

Senin, Desember 10, 2007

lingkaran putih

Dia menyapa lagi. Saya pura-pura saja biasa, tak terkejut barang sedikit. Lingkaran putih itu gemulai sekali kali ini, hampir mati saya terpesona. Batin saya sekali-sekali berbisik, akankah lama dia yang sekarang? saya coba berani menantang pusatnya, sebentar, saya mengaku kalah. kenapa setiap dia datang, seribu gejolak datang juga di kepala saya. akan ada apa lagi kali ini? tapi saat dia meluncur pelan, kembali menghilang, saya kembali didera tanya, lalu besok dia bawa apa lagi ya?

sejak saya lahir, sudah berapa juta kali datang dan pergi. ritmenya tetap, statis. tak bosankah dia? mana berani saya tanya. konsistensi adalah hal paling mengagumkan menurut saya, dan lingkaran putih ini, punya itu sepanjang hayat dikandung badan. memang kadang dia tidak telalu putih, ada saja yang membuat dia agak kemerahan, mungkin sedang tersipu. atau kadang agak kelabu, mungkin sedang merasa jengah, lelah.

tetap bersinarlah, jangan hilang barang sedetik. tolong beri makna, jangan hanya penghitung usia.

Minggu, Desember 09, 2007

enjoying the flame,,

solar plexus ini hampir meledak, sejuta matahari sedang sombong-sombongnya, bersinar semena-mena di mataku, hampir buta dibuatnya, ada dunia yang lebih indah dari ini?

waktu semua yang terlihat hanya batas tipis antara langit malam dan bumi, waktu lampu dan gemintang berdesak-desakan berebut tempat di layar hitam yang ku nikmati hanya dengan celana kolor dan kaos dua hari tak tersentuh sabun cuci, dan semua tetap luar biasa.

mau tau rasanya? indah sekali! seindah pepatah licik yang kondang raya, hari ini ngamen gratis, atau, hari ini bayar besok gratis, tidak akan berakhir sampai jenggot bisa tumbuh di jidat para biksu [tak usah membayangkan, saya sempat, mengerikan hasilnya]. rasa ini kontinyu, berkesinambungan, menjajah perlahan-lahan, halus sekali, sampai tak terasa lagi adanya.

wahai Yang Maha, ijinkan aku menikmati bara yang sudah terlanjur kupercikkan, kusiram bensin, dan kucelupkan ujung jari dan sebagian hatiku disitu. tidak ludes terbakar memang, tapi hangatnya bisa jelas merambat nikmat.

jika sudah waktunya kehilangan, tolong ambil dia cepat-cepat, seperti copet pasar yang tidak punya hati, merebut tiba-tiba, hilang semua, kala sadar, berteriak tiada guna, hanya diam meratapi, melupakan. jangan ambil seperti perampok dengan senjata, mengancam rebut nyawa atau serahkan dia, sampai hati tergoda satu tanya, adakah matiku lebih indah daripada adanya dia?