Rabu, Februari 13, 2008

welcome back to the "nasi aking" era,,

[ternyata udah sebulan saya nggak nengok ini blog, sebutlah saya nggak produktif, tapi memang kepala lagi nggak mau kompromi, semua ditahan aja didalem, susah buat diterjemahkan dalam kata-kata, apa mungkin saya mulai mandul kata-kata, duuhh,,,amit-amiiitt!!jangan sampe deh! saya pengen terus berkata-kata, sampe mati kalau bisa, bahkan kalau emang takdir saya jadi hantu, saya nggak mau jadi hantu pendiem, pengen jadi yang talkative, bukan cuma modal tampang serem, rambut panjang, ama baju putih model sprei,,]

saya baru sadar, akhir-akhir ini sering banget "nasi aking" disebut-sebut di tivi. sebenarnya saya udah akrab sama benda ini dari saya kecil. tiap hari kalau nasi di rumah nggak habis, sisa nasinya pasti ibu saya jemur besok paginya sampe kering terus ditampung di kantong plastik. kadang waktu dijemur, ada jamur-jamur warna oranye yang tumbuh di atas nasi yang memang sudah basi itu. kalau kantong plastik sudah penuh, ibu kasih nasi kering itu ke mbak rohanah, pembantu tetangga, karena waktu itu keluarga saya udah nggak memakai jasa pembantu lagi dengan pertimbangan saya dan kakak perempuan saya sudah cukup besar buat mengurus diri kami sendiri. saya yang memang sok tau dari dulunya, punya kesimpulan kalau nasi kering itu bakal buat makanan ayam. saya nggak pernah menyangka kalau nasi kering itu bakal makan mbak rohanah sekeluarga setiap hari. saya masih ingat, betapa saya terhenyak sekitar 3 detik waktu pertama kali saya sadar kalau sisa nasi yang saya makan, ternyata kembali jadi makanan buat sebuah keluarga di sana, yang notabene sama-sama manusia. ada sesak di dada saya yang tiba-tiba muncul kalau ingat jamur-jamur oranye itu, omigod,,

sekarang ini, rasa sesak yang sama muncul lagi di dada saya. di era serba abrakadabra sekarang ini, ternyata nasi aking [terpaksa] masih jadi makanan sehari-hari sebagian masyarakat indonesia yang katanya kaya raya makmur sentosa ini. jangan dulu lah ngemeng soal era globalisasi dengan embel-embel free trade area-nya, badai teknologi informasi, komputerisasi, gaya hidup back to nature dengan makanan serba organiknya yang harganya selangit, tren fashion yang katanya bolak balik bolak lagi ke jaman 60an, perawatan kulit paling mutakhir yang nggak tanggung-tanggung dari mulai lumpur sampai emas jadi bahan buat luluran, bla..bla..bla.. sadar woi sadar!!!! sebagian dari bangsa ini masih makan nasi basi yang dikeringkan, dikukus, yang mungkin kemudian dihidangkan hanya dengan totolan sambel plus seuprit ikan asin..

[i am definitely, surely, totally, completely realize now that there must be something wrong with us,,]

saya coba putar kepala, lihat dari sisi yang berbeda. nasib. apa cuma ini jawabannya? mungkin memang sudah nasib, sebagian dari kita hanya mau makan beras pilihan yang jauh-jauh diimpor dari india, sementara sebagian lainnya "hanya" bisa makan nasi basi sisa tetangga. mari bicara dengan si pemakan beras pilihan dari india. mereka bisa saja bilang, kami bekerja keras untuk ini jadi kami pantas dapat yang terbaik. jangan pernah salahkan gaya hidup kami. bukan dosa kami juga kan kalau diluar sana banyak orang yang tidak seberuntung kami. apa salah kalau kami kaya?

saya yang mulai pusing kembali putar kepala, coba bicara dengan si pemakan nasi aking. mereka bilang, keadaan yang memaksa kami begini. tapi mungkin memang sudah nasib. kami juga sudah berusaha, kerja pontang panting, tapi ya hasilnya segitu-gitu juga. mana apa-apa naik sekarang. anak-anak harus bayar sekolah, belum bayar kontrakan rumah, listrik, air, mana cukup buat beli beras. satu yang pasti, kami tidak pernah minta dilahirkan jadi orang miskin.

saya bener-bener pusing sekarang. saya putuskan buat tegakkan kepala saya lurus ke depan aja deh,, sekarang ini saya belum cukup kuat buat tengok kanan, tengok kiri setiap saat, terus-menerus, saya masih limbung, masih gampang jatuh. semoga saya cepat tumbuh jadi lebih kuat, supaya sambil berjalan saya bisa tengok kanan, kiri, kanan, kiri lagi,,mungkin ada yang bisa saya buat,, minimal supaya cerita keluarga pemakan nasi aking nggak muncul lagi di berita jam 6 sore, jadi rasa sesak itu nggak muncul lagi di dada saya,,

amin.