mm,,selamat pagi dunia, kayaknya saya udah lama nggak menyapa dunia dengan penuh cinta seperti pagi ini. males rasanya. dunia udah makin ndak bersahabat aja, makin pinter bikin kening berkerut2.
coba deh dipikir aja,,setiap buka mata pagi2, yang saya cari pertama remote tipi,,bukan matahari..demi di jejelin ama kenyataan hidup yg kadang bikin geleng2 kpala,,tapi kebih sering bikin ktawa.
saya baru aja menjalani minggu ter-hoekh-cuih-jijay-marijay-bajay selama saya hidup di jogja. saya baru aja 'terangkat' dari derita radang tenggorokan yang udah bikin badan panas 4 hari, kpala pusing 5 hari, dan tenggorokan feels like hell slama 4 hari. today i'm getting better. pelan-pelan, smua keseharian saya mulai 'kembali'. satu yang belum saya dapet juga, napsu makan. ini sejarah baru sodara sodara skalian, saya gak doyan makan! hhhhh..
sampai pagi ini, saya buka mata, remote tipi udah di tangan. sperti biasa, berita pagi selalu bikin saya melek dengan cara yang gak selalu sama. kadang dengan tampang kecut muka ditekuk, kadang dengan hambar senyum dukulum sedikit, tergantung beritanya. tapi ada yang mengguggah hati saya pagi ini. ada profil sebuah keluarga, ayah, ibu, dengan 3 anak. si ayah ni kerja sebagai office boy dengan penghasilan bersih 800ribu sebulan, si ibu cuma ibu rumah tangga. tunggu, diralat ibu rumah tangga, ga pake "cuma". reporter dari stasiun tivi meliput kegiatan mereka makan sahur sekeluarga. dengan detail menu apa yang mereka makan. ada nasi, tahu goreng, semur telor, mi instan, krupuk. mm,,lumayan, saya pikir, trus dimana istimewanya..?lalu si reporter bertanya sama si ibu, bagaimana dampak kenaikan harga2 bahan2 pokok saat ini terhadap kehidupan keluarga mereka. trus si ibu mulai cerita, untuk bisa menghidupi keluarga, bayar kontrakan rumah, biaya skolah anak2 [i'm so proud of this, they still try to give good education to their children.. ^_^], plus bayar2 yang lain2, dia harus pinter2 mengatur belanja sehari2. maksudnya, kadang untuk makan, yang terpenting, beras harus selalu tersedia. untuk lauk, yang diutamakan adalah anak2nya. jadi kadang si ibu hanya membeli 1 butir telur atau 1 bungkus mi instan lalu dibagi 2 untuk lauk makan anak2nya, sedangkan dia dan suami kadang hanya makan dengan kecap dan krupuk. hal ini gak cuma skali dua kali, ini keadaan sehari-hari yang harus dihadapi keluarga ini. kenyataan lain yang paling bikin saya miris, untuk makan daging ayam keluarga ini pun hanya sanggup sebulan sekali, itupun gak pasti. di bulan puasa ini, beberapa hari yang lalu, mereka pernah berbuka puasa hanya dengan minum air putih, tanpa makanan berbuka yang selayaknya. ya Allah,,
saya jadi inget, udah berapa ribu butir nasi yang dengan kejamnya udah saya buang seminggu ini. mungkin dengan gagahnya saya bisa membela diri. saya kan kmarin lagi sakit, gak napsu makan sama skali. tapi tetep aja saya merasa berdosa skali.
mendadak saya jadi lapar.. ^_^
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

1 komentar:
hahahaha bulu.....
tapi itu semua benar....
kita manusia yg (alhamdulilah) lebih memiliki bisa dengan sombongnya membuang beberapa bulir nasi yg menjadi makanan kita.
tapi bagi seseorang beberapa itu adalh kehidupan, kehidupan tuk menyambung nyawa kedepan, menyambung nyawa beberapa orang yg menjadi tanggungannya.
tetapkah kita seperti ini?
seadainya hidup semudah bulu yg berkembang dalam buku.....
mungkin semua ini akan lebih mudah
>>>>padi-26 Desember<<<<
Posting Komentar